Allah Jamin, Umat Islam Tidak Bisa Dikalahkan Musuh, Asal

Dewasa ini kita menyaksikan umat Islam terpecah belah menjadi beberapa kelompok. Perbedaan bisa menjadi rahmah, tetapi bisa juga menjadi fitnah yang mengarah perpecahan. Perbedaan kecil seolah menjadi besar, perbedaan hal furu'iyah seolah menjadi perbedaan hal yang pokok. Perbedaan pendapat mengarah pada perselisihan dan pertentangan. Bahkan saudara seiman, dianggap sebagai musuh yang harus dilawan, sementara musuh yang sebenarnya malah dianggap sebagai kawan. Kebanggan terhadap kelompoknya sendiri, menganggap kelompoknya yang paling benar, sementara kelompok lain salah. Kebenaran yang berasal dari kelompoknya seolah mengalahkan kebenaran yang disampaikan oleh al-qur an dan hadits. Hal inilah yang akan menyuburkan bibit-bibit perpecahan sehingga memunculkan hambatan persatuan umat. Inilah fenomena yang dialami umat akhir zaman. Ujian perpecahan ini akan terus menimpa umat Islam sampai hari kiamat tiba. 
kemenangan islam

Allah SWT memberikan garansi bahwa kehancuran umat Islam tidak akan terwujud dengan serangan musuh dari luar. Mereka tidak akan bisa mengalahkan umat Islam melainkan jika mereka dibantu oleh umat Islam sendiri. Faktanya memang kehancuran umat Islam memang dikarenakan perpecahan di kalangan umat, bahkan muncul penghianat-penghianat yang membantu musuh untuk menghancurkan saudaranya sendiri. (baca juga : Hal ini jarang dipikirkan orang, tapi akibatnya akan ditanggung sepanjang masa)

Hal ini telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits riwayat Muslim.
"Bahwasanya ketika Rasulullah SAW hendak bermaksud pergi ke 'Aliyah, beliau melewati masjid bani Muawiyah. Kemudian beliau masuk masjid tersebut dan menunaikan shalat 2 rakaat dan kami pun shalat bersama beliau. Usai shalat, beliau berdo'a sangat lama. Selanjutnya Rasulullah SAW menghadapkan wajahnya kepada kami, beliau berkata, "Aku memohon kepada Rabb-ku 3 perkara, 2 diantaranya dikabulkan, sedangkan yang satunya lagi tidak. Pertama, aku memohon agar umatku tidak dibinasakan oleh bencana kelaparan, maka Dia pun mengabulkannya. Kedua, aku memohon kepada Rabb-ku agar umatku tidak tenggelam (oleh banjir), maka Dia pun mengabulkan permohonanku ini. Ketiga, aku memohon agar umatku ini tidak saling baku hantam antara sesama mereka, inilah yang tidak dikabulkan oleh-Nya. 

Dalam riwayat Tirmidzi, Nabi SAW bersabda :
وَسَأَلْـتُهُ أَنْ لاَ يُسَـلِّطَ عَلَيهِمْ عَدُوًّا مِنْ غِيْرِهِم فَأَعْطَانِيهَا وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُذِيْقَ بَعْضَهُمْ بَأْسَ بَعْضٍ فَمَنَعَنِيهَا
"Dan aku memohon kepada-Nya agar umatku ini tidak dikuasai oleh musuh luar, maka Dia pun mengabulkan permohonanku ini. Aku memohon agar umatku satu sama lainnya tidak menimpakan kekejaman, namun Dia tidak mengabulkan permohonanku ini."

Sementara dalam riwayat Ahmad disebutkan :
"Aku memohon kepada-Nya agar umatku ini tidak dikuasai oleh musuh luar yang akan menghancurkan kekuatannya, maka Dia pun mengabulkan permohonanku ini. Aku juga memohon agar umatku ini tidak terpecah belah serta merasakan kekejaman sesama mereka, namun Dia enggan mengabulkan permohonanku ini. Maka, aku berkata, "Kalau begitu (diganti) dengan wabah penyakit panas atau kolera. Kalau begitu (diganti) dengan wabah penyakit panas atau kolera. Kalau begitu (diganti) dengan wabah penyakit panas atau kolera. Rasulullah SAW mengulangi sebanyak 3 kali."

Fitnah perpecahan antar umat Islam amatlah terlalu dahsyat, sehingga Nabi SAW sendiri berdo'a kepada Allah SWT agar cobaan umatnya diringankan, beliau memohon agar menggantinya dengan wabah kolera atau penyakit panas daripada perpercahan dan permusuhan antar umat Islam. (baca juga : Ini pidato menakjubkan Abu Bakar setelah diangkat menjadi khalifah)

Disini kita memahami, bahwa Nabi SAW memilih yang paling ringan di antara dua pilihan sulit yang  sama-sama buruk bagi umatnya. Sebab mati karena penyakit bisa menghapuskan dosa-dosa. Tentu ini lebih ringan daripada mereka harus saling memusuhi dan memerangi satu sama lain.

Perpecahan antar umat inilah yang akan menghancurkan umat sendiri. Musuh dari luar tidak akan mampu mengalahkan umat Islam jika umat bersatu dan menghilangkan ego kelompok. Musuh tidak akan mampu mengalahkan, jika tidak ada kelompok dari umat Islam sendiri yang mendukung musuh. Jadi, musuh pertama yang harus dilawan adalah perpecahan umat.  Umat Islam akan kembali berjaya jika menjadikan al-Qur an dan Hadits sebagai sumber kebenaran dan pedoman, mendudukkannya di atas kepentingan kelompok dan golongan. Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Mengatur Takdir Manusia sudah menjamin, bahwa musuh dari luar tidak akan bisa mengalahkan umat Islam asal umat Islam bersatu dan berpedoman pada al-Qur an dan Hadits.

Keistimewaan Istighfar Yang Jarang Diketahui

Setiap manusia pasti mempunyai kesalahan. Baik kesalahan terhadap Allah SWT maupun kesalahan terhadap sesama manusia. Karena manusia mempunya potensi untuk melakukan kesalahan tetapi juga manusia mempunyai kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan meminta ampun atas segala dosa yang diperbuatnya.

" Setiap anak Adam punya kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat." (HR. Bukhori)

karena itu Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk beristigfar. 
 أَسْـتَغْـفِراللهَ الذى لآإِلهَ إلاَ هُوَ الحَيُّ القَيُّوم وَأَتُوبُ إليه
Bahkan dalam suatu riwayat Nasai dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW yang sudah ma'sum, dijaga dari kesalahan tetap beristigfar seratus kali dalam sehari. Meski beliau terjaga dari kesalahan tapi beliau tetap beristigfar untuk memberikan teladan bagi kaum muslimin. (baca juga : Hal ini jarang dipikirkan, tapi akibatnya ditanggung sepanjang masa)

Suri tauladan inilah yang diamalkan oleh para sahabat dan salafus shalih. Pernah suatu hari, ulama' tabiin, Hasan Al Basri didatangi banyak orang untuk meminta nasihat agama dan banyak masalah. Diantara mereka, ada yang mengeluhkan keringnya sawah mereka, Hasan Al Basri pun menyuruhnya untuk banyak beristigfar. Ada juga yang mengeluhkan kemiskinan, ada yang belum punya anak, ladangnya gagal panen, dan persolan lainnya. Lagi-lagi Hasan Al Basri menyuruh mereka untuk beristigfar. 

Hal ini membuar Ar-Robi' bin Shabih bertanya kepada Hasan Al-Bashri, "Kenapa setiap kali engkau ditanya tentang segala persoalan, engkau menyuruh mereka untuk beristigfar?".

Hasan Al-Bashri menjawab dengan tenang, "Sungguh jawabanku itu bukan berasal dariku. Sebenarya, Allah SWT telah berfirman, 'Beristigfarlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai'." (QS. Nuh : 10-12) (baca juga : Jika besok mati. apa yang and bawa?)

Macam-Macam Air dan Hukumnya Untuk Bersuci

Dalam kaitannya dengan thahara (bersuci), air terdiri dari 4 macam, yaitu :

  1. Air Mutlak
Air mutlak adalah air yang suci dan mensucikan. Contoh air yang termasuk dalam air mutlak adalah 


  • Air hujan, air es, dan air embun. 
Hal ini didasarkan pada firman Allah Q.S. Al-Anfal ayat 11, "Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu."
macam air untuk bersuci

  • Air laut
Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah. "Seseorang menanyai Rasulullah, 'Ya Rasulullah, kami mengarungi lautan dan cuma membawa sedikit air. Bila kami memakainya berwudhu kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?', Beliau menjawab,'Air laut itu suci dan bangkainya juga halal."
  • Air sumur zam-zam
Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Ali r.a. "Rasulullah meminta satu timba air sumur Zam-zam. Kemudian beliau meminum sebagiannya dan memakai sebagian yang lain untuk berwudhu." (HR. Ahmad)
  • Air yang berubah karena mengendap terlalu lama atau karena tempatnya atau karena bercampur dengan sesuatu yang biasanya tak bisa dipisahkan darinya seperti lumut dan dedaunan pohon.
2. Air Musta'mal

Yang dimaksud dengan air musta'mal adalah air yang berasal dari salah satu anggota tubuh orang yang berwudhu atau orang yang mandi besar. Hukum air ini sama persis dengan hukum air mutlak, karena sebenarnya ia adalah air suci sekaligus menyucikan. Ketika menceritakan cara Nabi berwudhu, Rabi' binti Mu'awwadz juga telah mengatakan, "Kemudian beliau mengusap kepalanya dengan sisa air wudhu yang ada di kedua tangannya." (HR. Ahmad) Dan dalam redaksi Abu dawud, "Rasulullah membasuh kepalanya dengan sisa air yang ada di tangannya."

3. Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci
Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci seperti sabun, tepung dan benda suci lainnya. Air ini adalah air suci dan mensucikan selama ia masih tetap ada dalam kemutlakannya. Namun, jika ia telah keluar dari kemutlakannya sehingga tak bisa disebut lagi sebagai air mutlak, dia suci tapi tidak mensucikan.
Ummu Athiyah menuturkan, "Rasulullah datang ke tempat kami ketika putrinya wafat. Beliau lantas bersabda, "Mandikan ia dengan air dan tiga, lima, atau lebih banyak lagi daun bidara bila memang kalian pandang perlu. Kemudian tambahkanlah kapur barus atau sedikit kapur barus ke siraman yang terakhir. Setelah kalian selesai melakukannya, beritahu aku,' Setelah selesai memandikannya, mereka memberitahu beliau. Lantas beliau memberi mereka pakaian bawahnya sambil mengatakan, 'Jadikan ini tanda padanya." (HR. Jamaah).
Seorang mayit hanya boleh dimadikan dengan sesuatu yang boleh dipakai bersuci oleh orang yang masih hidup. 


4. Air yang bercampur dengan najis
Air yang bercampur dengan najis memiliki dua kemungkinan, pertama, najis mengubah rasa, warna, dan baunya. Air yang kondisinya seperti ini tak boleh dipakai bersuci berdasarkan kesepakatan ulama'. Kedua, air tetap dalam kemutlakannya, artinya, salah satu sifatnya tidak mengalami perubahan. Air seperti ini suci sekaligus menyucikan, baik sedikit atau banyak. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. "Seorang pria badui berdiri dan buang air kecil di dalam masjid. Para sahabat merangsek ke arahnya untuk mencegahnya, namun Nabi SAW bersabda, 'Biarkan dia dan siramlah air kencingnya dengan setimba air, karena kalian diutus untuk memudahkan, bukan mempersulit." (HR. Jamaah selain Muslim).

Mengenal Fardhu 'Ain, Fardhu Kifayah dan Sunah

Sebagai seorang muslim yang beriman, kita harus bertaqwa kepada Allah SWT, yaitu dengan cara menjalankan segala perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Perintah Allah itu bermacam-macam, ada yang merupakan fardhu 'ain, ada yang termasuk fardhu kifayah dan ada yang merupakan sunah.
fardhu 'ain dan fardhu kifayah

Pengertian fardhu 'ain adalah semua kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim. Fardhu 'ain ini jika dijalankan akan mendapatkan pahala, dan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa. Contohnya sholat, dan puasa. (baca juga : Hal ini jarang dipikirkan tapi akibatnya sepanjang masa)

Sedangkan pengertian fardhu kifayah adalah semua kewajiban yang boleh dilaksanakan atau diwakili oleh sebagian dari kaum muslimin. Jika sudah ada sebagian muslim yang melaksanakannya, maka muslim lainnya sudah gugur kewajibannya. Namun, sebaiknya kita diusahakan termasuk dalam golongan orang yang ikut melaksnakannya, meski cukup diwakili oleh sebagian kaum muslimin saja. 

Dalam melaksanakan perintah yang merupakan fardhu kifayah ini, orang yang melaksanakan perintah tersebut akan mendapakan pahala, sementara orang yang tidak ikut melaksanakan tidak mendapat pahala dan juga tidak mendapat dosa jika sudah ada yang melaksanakan. Contohnya, perintah mensholatkan orang yang sudah meninggal. Jika di suatu kampung ada seorang muslim yang meninggal dunia, jika tidak ada yang melaksanakan sholat jenazah, maka seluruh muslim di kampung itu mendapatkan dosa. Namun, jika ada sebagian muslim yang sudah mensholati jenazah tersebut, maka muslim yang lain sudah gugur kewajibannya dan jika tidak ikut sholat jenazah, maka tidak mendapatkan dosa. Tetapi dianjurkan untuk ikut sholat jenazah meskipun sudah ada yang mensholati jenazah tersebut.

Sementara sunah adalah segala perintah Allah SWT yang jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala, dan jika tidak dilaksanakan tidak akan mendapatkan dosa. Contohnya sholat sunah, mengucapkan salam, memberi sesuatu kepada tetangga, dan sebagainya. (baca juga : lakukan ini, agar didoakan 70000 malaikat)

Imam Al Ghazali mengatakan, bahwa jika diibaratkan seperti seorang pedagang, maka perintah yang fardhu 'ain itu modalnya. Artinya melaksanakan perintah fardhu 'ain itu modal yang harus dimiliki oleh seorang pedagang, sedangkan perintah sunah adalah labanya. Jika seorang muslim mengarungi dunia ini dengan menjalankan perintah wajib/fardhu 'ain maka ia akan selamat. Tetapi jika ia mengarungi dunia ini dengan menjalankan kewajiban fardhu 'ain ditambah dengan melaksanakan amalan sunah, maka ia tidak hanya mendapatkan keselamatan saja, tetapi juga akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai labanya.
(baca juga : ini 12 rahasia agar doa dikabulkan)

Wallahu a'lam bi showab.

Hal Ini Jarang Dipikirkan, Tapi Akibatnya Ditanggung Sepanjang Masa

Manusia sering terjebak untuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada gunanya. Mereka terlena dengan pikiran-pikiran remeh temeh, tentang khayalan-khayalan yang belum tentu baik bagi mereka. Sebagian lagi hanya berkutat tentang apa yang dihadapi hari ini, apa yang ingin didapat esok hari, tanpa berpikir sesuatu yang jauh lebih penting, yang sering mereka lupakan. 
muslimah surga tujuan manusia diciptakan

Manusia zaman now terjebak dengan rutinitas harian yang menjadikan manusia seperti robot yang punya perasaan. Harus melakukan ini, melakukan itu, harus menyelesaikan ini dan itu. Manusia bagaikan mesin yang sudah diprogram untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan terjadwal. Dikejar dengan target yang harus dicapai. Waktu jadi terasa lebih cepat sebelumnya, sehingga seolah-olah tidak ada waktu untuk memikirkan sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. (Keutamaan Menjenguk Orang Sakit, Didoakan 70000 Malaikat)

Seolah-olah tidak ada waktu untuk berpikir sesuatu yang sangat penting. Ya, hanya seolah-olah tidak punya waktu, tapi sebenarnya kita punya waktu untuk memikirkan hal penting ini. 

Banyak yang beranggapan bahwa berpikir sesuatu yang serius itu di tempat sunyi dengan memegang dahi yang berkerut. Padahal, berpikir bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Memikirkan sesuatu yang sangat penting ini, bahkan harus dilakukan di setiap tempat dan setiap waktu. Setiap akan melakukan suatu pekerjaan pun harus memikirkan hal penting ini. Pikirkan hal ini dimanapun dan kapanpun, pikirkan hal penting ini, disetiap apapun yang akan dikerjakan. 

Orang yang selalu memikirkan hal penting ini, niscaya akan selalu bahagia. Masalah apapun yang mendera, akan mudah diatasi. Kesedihan yang dialami akan segera sirna berganti dengan kelapangan dada. Hidup terasa lebih bermakna. Manusia akan kembali menjadi manusia seutuhnya. 

Orang yang tidak mau memikirkan hal penting ini, akan terus menerus hidup dalam kelalaian yang mendalam. Hidupnya akan semakin terkurung oleh dunia yang semakin lama semakin terasa sempit. Waktu akan terasa semakin cepat bergulir. Beban hidup akan terasa semakin berat, sehingga tekanan stres akan selalu menyertai hari-harinya. Hidup akan hampa, meskipun bergelimang harta. Meski semua yang diinginkan bisa didapat, tapi kebahagiaan menjadi sulit didapat. Jika Anda merasakan hal seperti ini, maka segeralah sadar, ada hal yang sudah dilupakan. Segeralah pikirkan hal penting ini. (baca juga : 12 rahasia agar do'a dikabulkan Allah)

Pernahkah Anda berpikir bahwa Anda tidak ada sebelum dilahirkan di dunia ini? Anda diciptakan dari sebuah ketiadaan. Siapa yang menciptakan? Apa tujuan Anda diciptakan di dunia ini? Bacalah dan renungi ayat ini :

وَماَ خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونَ
"Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (kepada-Ku)" (Q.S. Adz-Dzriyat :56)

َأَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَاخَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ
"Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakanmu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al Mu'minun : 115)

Oleh karena itu, yang pertama kali wajib untuk dipikirkan secara mendalam oleh setiap orang ialah tujuan dari penciptaan dirinya, baru kemudian memikirkan segala sesuatu yang ada di alam dan yang ia alami selama hidupnya. Manusia yang tidak memikirkan hal ini, akan mengetahui kenyataan-kenyatan pahit setelah ia mati. Yakni ketika ia harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah, namun sayang semuanya sudah sangat terlambat dan tidak akan bisa terulang kembali. Manusia akan sangat menyesal dan sedih ketika diperlihatkan semua perbuatannya ketika di dunia. 

Berbahagialah orang yang selalu memikirkan hal penting ini, dan amat merugilah orang yang mengabaikannya. 
Allah berfirman dalam al qur an surat al-Fajr ayat 23-24.
"Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahanam, dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan 'alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal sholeh) untuk hidupku ini."

Orang yang selalu memikirkan tujuan penciptaan dirinya dan mengetahu hakikat keberadaanya di dunia akan selalu berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setiap saat, dimanapun berada, ia akan selalu berhati-hati jangan sampai apa yang dikerjakannya melanggar larangan Allah. Setiap masalah atau musibah akan diterima dengan lapang dada, karena semua itu merupakan bagian takdir yang harus dilalui di dunia ini. Kesedihan akan segera sirna dengan keikhlasan dan kesabaran di hati karena ia tahu, bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, hidup di dunia merupakan saranan untuk mencapai kebahagiaan haqiqi di akhirat. (baca juga : Jika Besok Mati Apa yang Anda Bawa?)

Allah SWT telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia, maka berpikirlah hal penting ini, untuk bisa mengambil kebenaran dan melakukan sesuatu yang bernilai untuk kehidupan akhirat kelak. 


Kisah Kecemerlangan Ratu Kerajaan Islam di India

Di India pernah berdiri kerajaan Islam yang berdiri selama tiga abad sejak 1526 - 1858 M, kerajaan ini benama Mughal Baadshah (Mughal atau biasa juga disebut Mogul). Pada masa jayanya kerajaan Mughal memerintah hingga kawasan Afghanistan dan kawasan benua India lainnya. Salah satu peninggalan kerajaan Mughal yang sampai saat ini bisa kita jumpai adalah Taj Mahal, sebagai bukti nyata kemajuan arsitektur Mughal pada masa itu.

Kerajaan Mughal memiliki pemimpin-pemimpin hebat, salah satunya adalah Ratu Nur Jahan yang berkuasa pada abad ke 17. Sebagai ratu, Nur Jahan memainkan peran yang sangat besar, yang belum pernah ada sebelumnya di kesultanan Mughal. Ratu muslim ini adalah sosok perempuan yang kuat.
kerajaan islam mughal mogul

Nur Jahan menjalani kehidupan yang belum pernah dilakukan oleh perempuan pada masa itu. Ia berburu, mengelolah perekonomian kerajaan, merancang bangunan umum, dan mengambil kebijakan untuk membantu orang miskin.

Selain itu, Nur Jahan juga mampu memimpin pasukan untuk membebaskan kaisar yang ditawan oleh musuh. Tindakan berani tersebut membuat nama Nur Jahan terukir dengan tinta emas dan tak terhapuskan dalam benak publik dan juga dalam sejarah. Sebagai satu-satunya penguasa wanita di dinasti itu, Nur Jahan ada di mana-mana dalam cerita rakyat di India, Pakistan, Afghanistan dan Bangladesh.

Nur Jahan terlahir dengan nama Mehrunnisa. Namun, ia dijuluki Nur Jahan yang berarti cahaya dunia, oleh suaminya, Jahangir, yang merupakan penguasa kesultanan Mughal. 

Sejarah mencatat, Kerajaan Islam Mughal atau Mogul menguasai sebagian besar benua India selama 300 tahun sejak abad 16. Mughal adalah salah satu dinasti yang terbesar dan terkuat di India.

Nur Jahan juga dikenal sebagai penyair, ahli berburu dan arsitek yang inovatif. Salah satu karya arsitekturnya adalah makam orang tuanya di Agra, desainnya menjadi inspirasi pembangunan Taj Mahal. 

Nur Jahan merupakan seorang pemimpin yang luar biasa. Dia tidak berasal dari keluarga kerajaan, tetapi mampu meningkatkan derajatnya dari seorang selir menjadi sosok yang mumpuni dan disegani di istana. Tak heran, Nur Jahan menjadi isteri kesayangan sultan Jahangir. (baca juga : berkah Nabi Muhammad kepada Halimah)

Berbagai pencapaian Nur Jahan mendapatkan banyak pujian. Dalam perdagangan misalnya, ia dengan rela hati menyerahkan tanah yang dihadiahkan oleh Jahangir kepadanya untuk menjadi pusat perdagangan yang mampu mendatangkan keuntungan.

Nur Jahan mampu menjadi perempuan yang begitu kuat pada masanya karena faktor pendidikan. Sejak muda ia telah menerima pendidikan yang baik. Dia unggul dalam seni, musik, sastra dan tari. Pribadinya yang menarik dan mudah bergaul membuat ia punya banyak teman yang senantiasa mendukungnya. (baca juga : pelaut muslim ini menempuh jarak lebih jauh dari marco polo)

Dalam kerajaan Mughal, banyak kaisar dan ratu, termasuk Nur Jahan, yang turut mengembangkan senin, musik, dan arsitektur. Pada masa kejayaanya, Mughal mampu membangun kota-kota besar, masjid, benteng, dan makam-makam yang megah.

Ini Pidato Menakjubkan Abu Bakar setelah diangkat menjadi Khalifah

Setelah Rasulullah SAW wafat, maka kaum muslimin membaiat Abu Bakar As-Shidiq r.a. menjadi Khalifah.  Kemudian Abu Bakar berpidato setelah terlebih dahulu menyampaikan pujian kepada Allah SWT, Abu Bakar berucap :
"Amma ba'du! Wahai segenap manusia! Aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Maka jika aku berbuat baik, dukunglah, dan bila berbuat jelek, luruskanlah. Kejujuran adalah amanat, sedang dusta adalah khianat. Yang lemah dari kalian adalah kuat bagiku, sehingga haknya aku penuhi, dan yang kuat darimu adalah lemah bagiku sampai kuambil darinya haknya, In sya Allah.
khalifah Abu Bakar

Tidaklah seseorang meninggalkan jihad fi sabilillah melainkan Allah akan menimpakan kehinaan kepadanya, dan tidaklah satu perbuatan keji tersebar di suatu kaum, melainkan akan Allah turunkan kepada bencana secara merata.
Taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasulullah. Bila aku berbuat maksiat, janganlah kalian menaati aku. Bangkitlah untuk shalat, semoga Allah menghujani kalian rahmat." (baca juga : Kisah Nabi Muhammad dibelah jantungnya)

Sementara Musa bin Uqbah meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Auf r.a. ujarnya, "Abu Bakar r.a. pernah menyampaikan pidato seperti ini: "Wallahi, aku sedikitpun tidak berambisi menjadi pemimpin. Aku tidak pernah mengharapkannya, sehingga aku tidak pernah memintanya kepada Allah baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Tetapi aku takut timbul fitnah. Menyandang kepemimpinan itu tak dapat istirahat. Sungguh aku menyandangnya padahal ia masalah besar. Aku tak berdaya, kecuali dengan bantuan Allah SWT." (baca juga : Dakwah terang-terangan Nabi Muhammad dibilang tukang sihir)

Jangan Minum Manis Saat Sahur

Tips sehat saat sahur ini perlu diperhatikan dan dipraktekkan agar puasa kita bisa lancar, dan tetap bisa beraktifitas saat berpuasa. Sebagian orang yang berpuasa sering kali melakukan kegiatan konsumsi, makan dan minum yang salah, sehingga berakibat langsung dengan kesehatan saat berpuasa. yuk, simak tips sahur yang benar menurut dr. Fiastuti Witjaksono SpGk berikut ini.
menu sahur dan buka puasa

Dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr Fiastuti Witjaksono SpGK mengatakan masyarakat yang hendak berpuasa sebaiknya jangan meminum minuman manis saat sahur untuk mencegah hipoglikemia atau kurangnya kadar gula dalam darah saat berpuasa.


Fiastuti mengatakan minuman manis saat sahur akan menyebabkan kadar gula dalam darah cepat berkurang dan malah menimbulkan rasa cepat lapar dan haus. "Jangan minum manis saat sahur, karena kadar gula jadi cepat turun sehingga pagi-pagi sudah terasa lapar dan bisa hipoglikemia," kata dia dalam diskusi kesehatan mulut di Jakarta, Senin (21/5).
Saat sahur dianjurkan makan dengan porsi makan lengkap dan seimbang mulai dari karbohidrat, protein nabati dan hewani, sayur dan buah, lemak atau minyak sedikit hanya untuk menumis, bisa pula ditambah susu. Dan yang paling penting ialah untuk minum air putih sebanyak dua hingga tiga gelas untuk hidrasi tubuh.

Fiastuti menyarankan agar tidak berolahraga selepas sahur karena cairan tubuh yang ke luar lewat keringat baru akan diganti saat berbuka. Sebaiknya, kata Fiastuti, olahraga sebelum atau selepas berbuka agar cairan tubuh yang hilang bisa langsung tergantikan.
Untuk berbuka boleh dengan yang manis seperti teh manis, kurma, kolak, dan lainnya untuk mengganti gula darah yang mulai rendah pada sore hari. Sangat dianjurkan agar tidak meminum minuman dingin karena bisa membuat stres organ-organ tubuh dan berpotensi meningkatkan risiko infeksi.
Selepas berbuka dan shalat maghrib bisa dilanjutkan dengan makan berat yang tentunya dengan gizi seimbang. Usai tarawih boleh mengonsumsi camilan ringan. "Kalau yang berat badannya sudah berlebih makan dua kali saja cukup. Kalau yang kurus boleh habis tarawih makan lagi," ujar Fiastuti.

Sumber : Antara

Dengarkan Murottal Al Qur an dari Makkah

Asslaamu'alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

Sahabat muslim, aqoid.com telah menyediakan murottal qur an oleh para Syaikh dari Makkah dan Madinah yang sudah teruji dan tersohor. Anda bisa mendengarkan tilawah Al-Qur an dari para syaikh sambil beraktifitas atau bersantai secara online.
murottal Al Qur an

Silahkan pilih surah apa yang ingin sobat muslim dengarkan. Ada tiga suara syaikh yang bisa kita dengarkan, yaitu : 
  1. Syaikh Saad al Ghamdi, 
  2. Syaikh Ahmad Al-Ajmy 
  3. Syaikh Ash Shatry

Ini 12 Rahasia Agar Doa Dikabulkan oleh Allah SWT


Do'a adalah ibadah. Allah memertintahkan manusia agar berdoa dan merendahkan diri kepadaNya. Allah juga juga berjanji akan mengabulkan doa mereka yang berharap kepadaNya.

Agar doa kita dikabulkan oleh Allah SWT, maka selayaknya kita mengikuti tata cara berdoa yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah. Begini tata cara berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. 

1. Mencari penghasilan yang halal
Dalam shahih muslim disebutkan, Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Wahai manusia, ssungguhnya Allah SWT itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesugguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasulNya dengan firmanNya, 'Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalilhlah.' Dan Dia berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian.' Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, 'Ya Rabbku, ya Rabbku', padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaanya) bagaimana doanya akan dikabulkan!"(HR. Muslim)

2. Memperhatikan waktu-waktu yang utama.
Waktu-waktu yang utama untuk berdoa diantaranya : hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum'at, sepertiga malam terakhir, saat turun hujan, di saat sujud, antara adzan dan iqamat, dan ketika didzalimi.
3. Mengangkat kedua tangan
Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya Tuhan kalian yang Maha Suci dan Maha Tinggi adalah Mah Hidup lagi Pemurah. Dia merasa malu terhadap hambaNya jika ia menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu menolaknya dengan tangan hampa." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan lainnya).

4. Memulai doa dengan memuji Allah, mengagungkan dan menyanjung-Nya serta bershalawat atas Nabi SAW.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Nasa'i, dan Tirmidzi dan dinyatakan shahih olehnya dari Fadhalah bin Ubaid bahwa Rasulullah SAW mendengar sesorang berdoa usai mengerjakan shalat tanpa mengagungkan Allah dan mengucapkan Shalawa kepada Nabi, maka beliau bersabda, 'orang ini tergesa-gesa.' Kemudian beliau memanggil orang itu dan beliau bersabda kepadanya, 'Bila salah seorang di antara kalian berdoa hendaklah ia memulainya dengan mengagungkan Rabbnya serta menyanjungNya, kemudia mengucapkan shalawat atas Nabi SAW. Sesudah itu barulah ia berdoa meminta apa saja yang ia kehendaki.'

5. Menghadirkan hati, menampakkan kerendahan dan kebutuhan kepada Allah, serta melirihkan suara antara pelan dan keras.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'raf
 أُدْعُ رَبَّكُمْ تضَـرُّعًا وَخُفْـيَةً إِنَّهُ لاَيُحِـبُّ المُعْتَدِينَ
"berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

6. Doanya tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa'id bahwa Nabi SAW bersabda: "Tidak ada seorang muslim yang berdo'a kepada Allah Azza wa Jalla yang doanya tidak mengandung dosa atau bermaksud memutuskan tali silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu diantara tiga perkara, 1) Dia mengabulkan doa itu dengan segera; 2) Dia menangguhkannya untuk menjadi simpanannya di akhirat; 3) Dia menghindarkannya dari bahaya yang sebanding dengan apa yang dimintanya." Mereka bertanya, "Bagaimana jika kami banyak berdoa?" Nabi SAW menjawab, "Allah akan lebih memperbanyak lagi." (baca juga : hukum memakai perhiasan berlafadz Allah)

7. Tidak menganggap doanya lambat dikabulkan.
Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: "Doa seseorang akan dikabulkan Allah selama orang itu tidak terburu-buru lalu berkata, 'Aku berdoa, tetapi Allah tidak juga mengabulkan doaku'."

8. Berdoa dengan keyakinan pasti dikabulkan.
Hal ini berdasarkan hadits dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah seseorang diantara kalian mengatakan, 'Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mengendakinya. Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendakinya.' Tujuannya adalah untuk memperkuat permohonannya itu karena Allah, yang tak seorangpun dapat memaksa-Nya."

9. Memilih kalimat yang pendek tapi sarat makna
Nabi menyukai doa yang pendek  tapi sarat makna, misalnya:
رَبَّنَا اتِنَافى الدُنْيَاحَسَنَةً وَفى الأخِـرَةِ حَسَنَةً وَقِنَاعَذَابَ النَارِ
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka."

10. Mengulang doa tiga kali
Abdullah bin Mas'ud r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sering kali berdoa dan membaca istighfar sebanyak tiga kali. (HR. Ahmad)

11. Istighfar dimulai dari diri sendiri
seperti firman Allah SWT dalam Q.S. al-Hasyr ayat 10:
رَبَّنَا اغْفِـرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيمَانِ
"Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudar kami yang telah beriman lebih dulu dari kami."

12. Tidak mendoakan keburukan atas diri sendiri, keluarga dan hartanya
Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah engkau berdoa buruk terhadap dirimu, begitu juga anak-anakmu, pelayan-pelayanmu dan harta bendamu. Jangan sampai nanti doamu itu bertepatan dengan saat ketika Allah bisa memenuhi permohonan, hingga doa burukmu itu benar-benar akan terkabul." (HR. Muslim)

Demikianlah 12 rahasia agar doa dikabulkan oleh Allah sebagaimana adab berdoa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Adab berdoa dalam Islam.
Baca juga : Alasan Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Halimah

Kisah Nabi Muhammad Dibelah Jantungnya


Muhammad SAW dilahirkan pada hari Senin, tanggal 9 Rabi'ul Awwal pada tahun tragedi pasukan bergajah atau 40 tahun dari berlalunya kekuasaan Kisra Anusyirwan. Juga bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M. 

Wanita pertama yang menyusui beliau setelah ibundanya adalah Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah wanita budak dari Abu Lahab yang saat itu juga menyusui bayinya yang bernama Masruh. Sebelumnya, ia juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib. 

Setelah beberapa lama kemudian, kakek Nabi SAW yaitu Abdul Muthalib mencarikan wanita yang bisa menyusui Rasulullah SAW. Dia Akhirnya mendapatkan wanita penyusu dari kabilah Bani Sa'ad bin Bakr yang bernama Halimah binti Abu Dzuaib atau yang biasa dikenal dengan Halimah as-Sa'diyah. (baca juga : Berkah Nabi Muhammad kepada Halimah)

Nabi Muhammad SAW tinggal di perkampungan kabilah Bani Sa'ad, hingga berusia empat atau lima tahun. Saat tinggal di Kabilah Bani Sa'ad itulah beliau mengalami peristiwa menakjubkan, yaitu dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril. Muhammad SAW dibelah dadanya saat berusia empat tahun, ada juga yang berpendapat Rasulullah sudah berumur lima tahun. 

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bahwasanya Rasulullah SAW didatangi oleh Jibril a.s. saat beliau tengah bermain bersama teman-teman sebayanya. Jibril menangkap dan merebahkan beliau di atas tanah lalu membelah jantungnya, kemudian mengeluarkannya, dari jantung ini dikeluarkan segumpal darah. Jibril berkata, "Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu!" Kemudian mencuci jantung tersebut dengan air zam zam di dalam baskom yang terbuat dari emas, lalu memperbaikinya dan menaruhnya di tempat semula. Teman-teman sebayanya tersebut berlarian mencari ibu susuannya seraya berkata, "Muhammad telah dibunuh!" Mereka akhirnya beramai-ramai menghampirinya dan menemukannya dengan rona muka yang sudah berubah. Anas (periwayat hadits) berkata "Sungguh aku telah melihat bekas jahitan itu di dada beliau SAW." (baca juga : perjalanan hidup Halimah sebelum mengasuh Nabi)

Setelah peristiwa tersebut, Halimah As Sa'diyah merasa khawatir atas diri beliau sehingga dikembalikanlah lagi ke ibundanya. Nabi Muhammad SAW tinggal bersama ibunya sampai berusia enam tahun. 

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit dalam Islam, Di Do'akan 70.000 Malaikat


Menjenguk orang sakit merupakan akhlak seorang muslim yang mulia. Menjenguk orang sakit dalam Islam merupakan suatu kewajiban, terutama jika yang sakit masih memiliki hubungan dengannya. Seperti saudara, sahabat, tetangga, dan sebagainya. 
Menjenguk orang sakit bukan hanya sekedar akhlak seorang muslim tetapi juga merupakan perwujudan dari nilai-nilai keimanan. Seorang mukmin tidak akan membiarkan saudara seimannya menderita atau tertimpa musibah tanpa ada kepedulian terhadapnya. Dengan kehadiran kita, akan memberikan motivasi dan dukungan moril kepada si sakit, terutama yang paling penting adalah do'a atas kesembuhannya. 
Sikap empati terhadap orang yang sakit, bukan urusan sepele. Dalam ajaran Islam, itu adalah hak setiap yang sakit terhadap saudaranya. Artinya dalam Islam, setiap orang yang sakit memiliki hak untuk didatangi, dijenguk, dihibur, dan didoakan. Jika diperlukan, mereka juga berhak mendapat bantuan biaya pengobatan. Itulah semangat persaudaraan Islam, ukhuwah Islamiyah yang nyata.
<
Hari ini, budaya menjenguk orang sakit terbilang langka. Karena kesibukan masing-masing, rasa empati tidak lagi diwujudkan dengan mengunjungi orang sakit, tetapi budaya itu mulai berubah, hanya diwakili oleh status di facebook, unggah foto di Instagram, kirim ucapan di Whatsapp, dan sebagainya. Seolah-olah itu semua sudah dianggap cukup. Padahal, kehadiran saudara dan teman-teman dari si sakit itu jauh lebih bermakna dibanding hanya untaian kata-kata di sosial media.
Dalam ajaran Islam, menjenguk orang yang sakit, bukan hanya merupakan hak bagi si sakit dari saudaranya. Tetapi Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan, ada banyak keutamaan dan keberkahan ketika kita mengunjungi orang sakit dan orang yang sedang ditimpa musibah. Keutamaan menjenguk orang yang sakit adalah didoakan 70.000 malaikat. Itu adalah sebuah keberkahan yang fantastis. Bayangkan hanya dengan menjenguk orang sakit, ada 70.000 makhluk Allah yang suci mendoakan kita. Sebuah kesempatan berharga yang tidak patut kita lewatkan begitu saja. Nabi Muhammad SAW bersabda : مَامِنْ مُسْـلِمٍ يَعُوْدَ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ اَلْفَ مَلَكٍ حَتَّ يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِـيَّةً إِلاَصَلَّى عَلَيهِ سَبْعُوْنَ اَلْفَ مَلَكٍ حَتى يُصْـبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيْفَةٌ فِى الجَـنَّةِ "Tak seorang Muslim pun yang mengunjugi Muslim lain (yang sakit) di pagi hari, kecuali akan ada 70.000 malaikat yang mendo'akannya hingga sore hari. Dan jika ia mengunjunginya pada sore hari, ada 70.000 malaikat yang mendo'akannya hingga pagi hari. Dan baginya satu kebun di surga." (HR. At-Tirmidzi)
Orang yang mengunjungi orang yang sakit tidak hanya akan dido'akan oleh tujuh puluh ribu malaikat, tetapi para malaikat juga akan memanggil-manggil namanya dan memujinya. Kadangkala, sebagian orang berbuat baik hanya sekedar ingin dipuji orang lain, agar dianggap  sebagai orang baik di mata manusia. Lha ini, muslim yang mengunjungi orang sakit akan dipuji-puji oleh makhluk Allah yang mulia, yaitu para Malaikat karena ia mengunjungi orang sakit. Biarlah orang lain berebut pujian dari manusia, kita sebagai muslim yang baik, yang kita kejar adalah pujian dari Malaikat dengan mengunjungi orang sakit.
Maa Syaa Allah, begitu mulia dan beruntungnya orang yang menjenguk orang sakit. Apakah kita akan melewatkannya begitu saja? Kapan terakhir kita mengunjungi orang sakit? seminggu lalu? sebulan? atau beberapa bulan yang lalu? Yuuk, kita budayakan menjenguk orang sakit dan mendo'akannya. Jangan biarkan keutamaan dan kemuliaan ini berlalu begitu saja, tanpa kita sanggup meraihnya.

Pelaut Muslim ini Menempuh Jarak Lebih Panjang dari Marco Polo

Sejak kecil pelaut muslim ini sudah tertarik pada pelayaran. Ia dikenal sebagai penjelajah ulung. Pernah menempuh jarak sejauh 72.000 mil melalui lautan dan daratan. jarak ini jauh lebih panjang dari yang dilakukan Marco Polo dan penjelajah manapun sebelum datangnya teknologi mesin uap. Ia adalah Ibnu Battuta.

Ibnu Battuta memulai perjalanannya pada umur 21 tahun dengan tujuan menunaikan ibadah haji. Ia bersama jamaah Tangiers lainnya menempuh keringnya hawa laut Mediterania di tengah teriknya daratan berpasir Afrika Utara. Semuanya dilakukan hanya dengan berjalan kaki, menyusuri pantai Utara Afrika melewati Aljazair, Tunisia, Tripoli, Alexandria, Kairo, Jerusalem, lalu singgah di Damaskus, Madinah, dan Makkah.
Tahun 1326 M, ia melanjutkan perjalanan ke wilayah Iran dan Irak sekarang. Setahun berikutnya kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua, dan tinggal selama setahun di kota suci itu.

Tahun 1328 M, Battuta melanjutkan perjalanan ketiganya ke pantai Timur Afrika hingga ke kota Kilwa, sekarang Tanzania. Penjelajahannya berlanjut ke Somalia, pantai-pantai Afrika Timur termasuk Zeila dan Mambasa. Kembali ke Aden, kemudian Oman, Hormuz di Persia dan Pulau Dahrain. (baca juga : Hukum Memakai Perhiasan Berlafadz Allah)

Battuta melakukan perjalanan ke wilayah Asia Tengah melalui Anatolia ke Turki Asia dan singgah di Konstantinopel sebelum berlayar menyeberangi Lautan Hitam ke wilayah Asia Tengah.

Dari wilayah sungai Volga, pada tahun 1334 M, Ibnu Battuta memasuki wilayah Afganistan melalui Kabul hingga Delhi, India. Pada tahun 1342 M, Sultan di Delhi mengutus Battuta melakukan perjalanan ke Cina sebagai Duta Besar. pada tahun 1346 M, ia memulai perjalanan pulang dari Beijing selama empat tahun perjalanan darat dan pelayaran laut, ia kembali ke kota kelahirannya Tangier Maroko.

Ibnu Battuta pergi berkelana pada umur 21 tahun dan kembali pada umur 44 tahun. sebuah perjalanan selama hampir 24 tahun yang mengesankan.

Pada tahun 1354 M, Battuta kembali ke tanah kelahirannya dan menetap di kota Fez dan berteman baik dengan Sultan. Sang Sultan kagum dengan perjalanan Battuta dan memintanya menuliskannya ke dalam sebuah buku yang dikenal dengan judul Rihla atau My Travel. Buku ini dijadikan pegangan oleh para pelaut sebelum berlayar ke suatu tempat. (baca juga : Perubahan Nasib Halimah setelah mengasuh Nabi)

Sumber : Majalah Hidayatullah edisi 3/XXVI/Juli 2014