Pelaut Muslim ini Menempuh Jarak Lebih Panjang dari Marco Polo

Sejak kecil pelaut muslim ini sudah tertarik pada pelayaran. Ia dikenal sebagai penjelajah ulung. Pernah menempuh jarak sejauh 72.000 mil melalui lautan dan daratan. jarak ini jauh lebih panjang dari yang dilakukan Marco Polo dan penjelajah manapun sebelum datangnya teknologi mesin uap. Ia adalah Ibnu Battuta.

Ibnu Battuta memulai perjalanannya pada umur 21 tahun dengan tujuan menunaikan ibadah haji. Ia bersama jamaah Tangiers lainnya menempuh keringnya hawa laut Mediterania di tengah teriknya daratan berpasir Afrika Utara. Semuanya dilakukan hanya dengan berjalan kaki, menyusuri pantai Utara Afrika melewati Aljazair, Tunisia, Tripoli, Alexandria, Kairo, Jerusalem, lalu singgah di Damaskus, Madinah, dan Makkah.
Tahun 1326 M, ia melanjutkan perjalanan ke wilayah Iran dan Irak sekarang. Setahun berikutnya kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua, dan tinggal selama setahun di kota suci itu.

Tahun 1328 M, Battuta melanjutkan perjalanan ketiganya ke pantai Timur Afrika hingga ke kota Kilwa, sekarang Tanzania. Penjelajahannya berlanjut ke Somalia, pantai-pantai Afrika Timur termasuk Zeila dan Mambasa. Kembali ke Aden, kemudian Oman, Hormuz di Persia dan Pulau Dahrain. (baca juga : Hukum Memakai Perhiasan Berlafadz Allah)

Battuta melakukan perjalanan ke wilayah Asia Tengah melalui Anatolia ke Turki Asia dan singgah di Konstantinopel sebelum berlayar menyeberangi Lautan Hitam ke wilayah Asia Tengah.

Dari wilayah sungai Volga, pada tahun 1334 M, Ibnu Battuta memasuki wilayah Afganistan melalui Kabul hingga Delhi, India. Pada tahun 1342 M, Sultan di Delhi mengutus Battuta melakukan perjalanan ke Cina sebagai Duta Besar. pada tahun 1346 M, ia memulai perjalanan pulang dari Beijing selama empat tahun perjalanan darat dan pelayaran laut, ia kembali ke kota kelahirannya Tangier Maroko.

Ibnu Battuta pergi berkelana pada umur 21 tahun dan kembali pada umur 44 tahun. sebuah perjalanan selama hampir 24 tahun yang mengesankan.

Pada tahun 1354 M, Battuta kembali ke tanah kelahirannya dan menetap di kota Fez dan berteman baik dengan Sultan. Sang Sultan kagum dengan perjalanan Battuta dan memintanya menuliskannya ke dalam sebuah buku yang dikenal dengan judul Rihla atau My Travel. Buku ini dijadikan pegangan oleh para pelaut sebelum berlayar ke suatu tempat. (baca juga : Perubahan Nasib Halimah setelah mengasuh Nabi)

Sumber : Majalah Hidayatullah edisi 3/XXVI/Juli 2014

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon